Misbahul Munir: Kebebasan Berserikat Tak Sama dengan Bebas Langgar Hukum

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 26 Desember 2025 - 22:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa: Misbahul Munir: Kebebasan Berserikat Tak Sama dengan Bebas Langgar Hukum

Foto Istimewa: Misbahul Munir: Kebebasan Berserikat Tak Sama dengan Bebas Langgar Hukum

Malang – Praktik tindakan di luar mekanisme hukum atau ekstra yudisial kembali menjadi sorotan publik. Fenomena ini dinilai berpotensi menggerus sendi-sendi negara hukum serta membuka ruang pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Peringatan tersebut disampaikan oleh Misbahul Munir, S.H., advokat asal Madura yang menaruh perhatian serius pada isu ketatanegaraan dan penegakan hukum.

Menurut Misbah, Indonesia sejak awal telah menegaskan diri sebagai negara hukum, sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Konsekuensinya, seluruh persoalan sosial, sengketa, hingga dugaan tindak pidana harus diselesaikan melalui mekanisme hukum yang sah, baik melalui jalur non-litigasi maupun litigasi.

“Ketika proses hukum dilangkahi, yang runtuh bukan hanya aturan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem keadilan,” ujar Misbah dalam keterangannya kepada media.

Dalam perspektif sejarah hukum modern, prinsip rule of law lahir sebagai respons atas praktik main hakim sendiri yang kerap terjadi pada masa sebelum sistem peradilan terbentuk secara mapan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, praktik tersebut terbukti memicu kekacauan sosial, konflik horizontal, serta pelanggaran HAM yang serius.

Misbah menilai, gejala serupa mulai tampak kembali dalam konteks kekinian. Bentuknya beragam, mulai dari tindakan sepihak, intimidasi, hingga pemaksaan kehendak oleh oknum atau kelompok tertentu yang mengatasnamakan kepentingan moral, sosial, atau bahkan organisasi kemasyarakatan (ormas).

“Ini bukan semata persoalan hukum, melainkan persoalan peradaban. Negara hukum tidak boleh kalah oleh tindakan massa,” tegasnya.

Sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura, Misbah yang fokus pada Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (HTN-HAN) menilai bahwa sebagian ormas belum sepenuhnya memahami batas-batas konstitusional dalam menjalankan aktivitasnya.

Baca Juga:  Hadiri Harkopnas ke-79, Wabup Alif Tegaskan KDKMP Bukan Untuk Singkirkan Toko Kelontong

Ia menegaskan, ormas merupakan bagian sah dari demokrasi dan kebebasan berserikat. Namun demikian, kebebasan tersebut tidak bersifat absolut dan tetap harus tunduk pada hukum yang berlaku.

“Kebebasan berserikat bukan berarti kebebasan melangkahi hukum,” katanya.

Sebagai langkah preventif, Misbah mendorong kehadiran negara melalui regulasi yang mewajibkan setiap ormas memiliki konsultan hukum (in-house counsel) yang kompeten, khususnya di bidang HTN-HAN.

Menurutnya, keberadaan konsultan hukum bukan sekadar formalitas administratif, melainkan instrumen penting untuk:

  • memastikan visi dan misi ormas selaras dengan konstitusi,

  • mengawal setiap kebijakan organisasi agar sesuai hukum,

  • mencegah tindakan yang berpotensi melanggar HAM.

“Bagi ormas, memiliki konsultan hukum HTN-HAN itu fardhu ain. Wajib, bukan pilihan,” ujarnya.

Misbah juga mengingatkan, pembiaran terhadap praktik ekstra yudisial dapat berujung pada chaos sosial dan delegitimasi aparat penegak hukum.

“Polisi, jaksa, hakim, bahkan advokat bisa dianggap tidak berfungsi jika hukum terus-menerus dilangkahi. Ini sangat berbahaya bagi sistem hukum kita,” jelasnya.

Ia menilai, kondisi tersebut berpotensi menggeser paradigma hukum nasional dari sistem yang tertata menuju situasi di mana kekuatan massa lebih dominan daripada hukum.

Padahal, menurutnya, hukum Indonesia dibangun di atas tiga pilar utama: keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. Ketiga pilar tersebut akan runtuh apabila negara gagal hadir secara tegas.

“Jangan sampai sistem hukum yang sudah mulai tertata rapi justru digeser oleh praktik-praktik yang membawa kita mundur,” tandasnya.

Misbah menegaskan bahwa pernyataan ini disampaikan sebagai pandangan akademik dan profesional, bukan tudingan terhadap organisasi atau pihak tertentu, melainkan sebagai upaya mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga marwah negara hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel radarnews9.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Gresik Uji Coba Program PIRINGKU, Berikan Makanan Siap Konsumsi bagi Lansia Tunggal
Kabupaten Gresik Boyong Dua Penghargaan di Ajang Wilwatikta Awards Kategori Lompatan Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Tarik Investasi
Green Policing, Polres Kediri Bersihkan Lingkungan Masjid
Dugaan Sertifikat Tanah Ganda di BPN SURABAYA 1, HGB Diduga Terbit di Atas Tanah Hak Milik
Cegah Bullying Sejak Dini, Satbinmas Polres Kediri, sasar 2 sekolah di Pare
Edy Hadisiswoyo Dilantik sebagai Pj Sekda Gresik, Bupati Tekankan Soliditas Birokrasi
Bupati Gresik Lepas 187 Atlet dan Ofisial Kontingen POPDA XV dan PEPARPEDA III Jatim 2026
Pemkab Gresik Gandeng TNI-Polri Percepat Pendataan Perlinsos Digital
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 14:35 WIB

Pemkab Gresik Uji Coba Program PIRINGKU, Berikan Makanan Siap Konsumsi bagi Lansia Tunggal

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:49 WIB

Kabupaten Gresik Boyong Dua Penghargaan di Ajang Wilwatikta Awards Kategori Lompatan Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Tarik Investasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Green Policing, Polres Kediri Bersihkan Lingkungan Masjid

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:03 WIB

Cegah Bullying Sejak Dini, Satbinmas Polres Kediri, sasar 2 sekolah di Pare

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Edy Hadisiswoyo Dilantik sebagai Pj Sekda Gresik, Bupati Tekankan Soliditas Birokrasi

Berita Terbaru

Berita

Green Policing, Polres Kediri Bersihkan Lingkungan Masjid

Jumat, 30 Okt 2026 - 09:45 WIB